30 Agustus 2012,
 1

Sumber gambar: Atama Rena Perdana

Dalam bidang perbankan, risiko sangat penting untuk dikelola. Penerapan manajemen risiko pada bank akan meningkatkan shareholder value, memberikan gambaran kepada pengelola bank mengenai potensi kerugian di masa mendatang, serta meningkatkan daya saing bank.

Berdasarkan peraturan Bank Indonesia PBI No 5/8/PBI/2003 dan perubahannya no 11/25/PBI/2009 tentang penerapan manajemen risiko pada bank umum, terdapat 8 risiko yang harus dikelola oleh Bank, yaitu:

  1. Risiko Kredit adalah risiko yang terjadi ketika debitur tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada bank. Potensi risiko ini dapat terjadi pada aktivitas operasional bank seperti perkreditan, aktivitas treasuri dan investasi, dll.
  2. Risiko Pasar adalah risiko yang terjadi akibat perubahan kondisi pasar terkait posisi neraca, rekening administratif, termasuk transaksi derivatif.
  3. Risiko Likuiditas adalah risiko yang terjadi karena bank tidak mampu memenuhi kewajiban jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan. Risiko likuiditas terbagi atas risiko likuiditas pasar dan risiko likuiditas pendanaan.
  4. Risiko Operasional adalah risiko yang terjadi akibat tidak berjalannya proses internal secara optimal. Contohnya adalah kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau kejadian eksternal yang dapat memengaruhi operasional bank.
  5. Risiko Hukum adalah risiko yang timbul akibat tuntutan hukum dan atau kelemahan aspek yuridis.
  6. Risiko Reputasi adalah risiko yang terjadi akibat menurunnya kepercayaan stakeholder yang bersumber dari persepsi negatif terhadap bank.
  7. Risiko Strategis adalah risiko yang terjadi akibat ketidaktepatan dalam pengambilan keputusan strategis.
  8. Risiko Kepatuhan adalah risiko yang terjadi akibat bank tidak mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Referensi: Modul Sertifikasi Manajemen Risiko, Level 1. Banker Association for Risk Management. 2010.

One response on “Risiko perbankan

Tinggalkan Balasan