23 Oktober 2012,
 0

Sumber gambar: eHow

Tujuan MRP adalah menghasilkan informasi persediaan yang mampu digunakan untuk mendukung melakukan tindakan secara tepat di dalam berproduksi. Agar MRP dapat berfungsi dan dioperasikan dengan efektif, ada beberapa persyaratan dan asumsi yang harus dipenuhi, yaitu: (Stevenson, William J., 1999: 620-625)

  1. Tersedianya JIP (MPS), yaitu suatu rencana yang terperinci yang menetapkan jumlah serta waktu suatu produk akhir harus tersedia.
  2. Setiap komponen atau material harus mempunyai identifikasi yang khusus. Hal ini disebabkan karena biasanya MRP menggunakan komputer. Jumlah komponen atau material yang ditangani sangat banyak, maka klasifikasi komponen atau material, serta bentuknya (bahan mentah, barang setengah jadi, komponen dan produk akhir) harus jelas perbedaan satu dengan lainnya.
  3. Tersedianya struktur produk. Dalam hal ini, tidak diperlukan struktur produk yang memuat item yang terlibat dalam pembuatan suatu produk bila itemnya sangat banyak dan proses pembuatannya sangat kompleks. Walaupun demikian, yang penting, struktur produk harus mampu menggambarkan secara gamblang langkah-langkah suatu produk dibuat mulai dari bahan baku sampai dengan produk jadi.
  4. Tersedianya catatan tentang persediaan untuk semua item yang menyatakan status persediaan yang ada sekarang dan yang akan datang (direncanakan).

Di samping itu, beberapa asumsi yang diperlukan sebagai prakondisi berlakunya MRP adalah sebagai berikut:

  1. Adanya file data yang terintegrasi dengan melibatkan data status persediaan dan data tentang struktur produk. File data ini perlu dijaga ketelitian dan kelengkapannya agar selalu memuat data terbaru.
  2. Waktu ancang-ancang (lead time) untuk semua item diketahui, atau paling tidak dapat diperkirakan. Dalam hal ini, waktu ancang-ancang dapat berupa interval waktu antara saat pemesanan dilakukan sampai dengan saat barang tiba dan siap digunakan, atau dapat pula berupa waktu proses pembuatan dari satu stasiun kerja untuk item atau komponen tersebut.
  3. Setiap item persediaan selalu ada dalam pengendalian. Hal ini berarti bahwa tersedia mekanisme yang mampu memantau dan mengevaluasi keadaan persediaan dan tahapan-tahapan proses produksi dari bahan baku sampai dengan produk jadi.
  4. Semua komponen untuk suatu perakitan dapat disediakan pada saat pesanan untuk perakitan tersebut dilakukan.
  5. Pengadaan dan pemakaian komponen bersifat diskrit.

Tinggalkan Balasan