2 November 2015,
 0

Combined Assurance event
Pada bulan September 2009, Institute of Directors in South Africa (IODSA) menerbitkan dua dokumen—King Report on Governance dan Code of Governance Principles—yang dikenal dengan nama King III. King III adalah pedoman tata kelola (governance) yang disusun oleh komite yang dipimpin oleh Marvyn E. King dan merupakan pengembangan dari laporan-laporan sebelumnya, yaitu King I (1994) dan King II (2002). Kepatuhan terhadap King III merupakan persyaratan bagi semua perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Johannesburg (JSE).

King III dianggap sebagai salah satu pedoman tata kelola terbaik yang menyertakan beberapa konsep tata kelola modern, seperti penyelesaian sengketa alternatif (alternative dispute resolution) dan audit internal berbasis risiko (risk-based internal audit). Salah satu konsep baru yang diformulasikan oleh King III adalah “pemastian terintegrasi” atau lebih dikenal dengan singkatan CA (combined assurance).

Definisi CA menurut King III adalah “integrasi dan penyelarasan proses pemastian pada suatu organisasi untuk memaksimalkan pengawasan risiko dan tata kelola serta efisiensi pengendalian, dan optimalisasi pemastian menyeluruh terhadap komite audit dan risiko dengan memperhitungkan selera risiko perusahaan”.

Pemastian (assurance) adalah pemberian informasi yang akurat dan mutakhir dari manajemen kepada pemangku kepentingan mengenai efisiensi dan efektivitas kebijakan dan operasi serta status kepatuhan terhadap regulasi. Layanan ini dilakukan oleh berbagai penyedia pemastian (assurance provider), baik internal maupun eksternal, untuk memberikan penilaian independen terhadap proses tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, dan pengendalian (governance, risk management, compliance, and control atau disingkat GRCC) di dalam organisasi. Aktivitas pemastian membantu direksi memantau usaha organisasi sesuai kebutuhan para pemangku kepentingan.

Combined Assurance
Model CA yang dicantumkan pada klausul 3.5 King III bertujuan untuk mengoptimalkan cakupan pemastian yang diperoleh dari manajemen, penyedia pemastian internal, dan penyedia pemastian eksternal terhadap area risiko kunci yang berpengaruh terhadap organisasi. Penerapan CA yang efektif dapat membantu organisasi dalam mengefektifkan dan mengefisienkan proses pemastian serta mengurangi kepenatan audit (audit fatigue). Pemastian ini dijalankan melalui suatu konsep yang disebut “tiga lini pertahanan” (three lines of defence atau 3LOC) yang terdiri atas tiga lini berikut.

  1. Lini #1: pengawasan manajemen, misalnya melalui pengukuran kinerja dan penilaian mandiri terhadap pengendalian
  2. Lini #2: manajemen risiko terintegrasi, hukum, kepatuhan, pengendalian kualitas, serta K3 (kesehatan dan keselamatan kerja)
  3. Lini #3: audit internal, audit eksternal, dan penyedia pemastian lain

Sejak awal tahun 2013, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mendorong penerapan CA, antara lain melalui koordinasi dengan berbagai asosiasi dalam bidang AIMRPK (audit internal, manajemen risiko, dan pengendalian kualitas) dan kepatuhan, dengan pertemuan terakhir dilangsungkan pada bulan Agustus 2015 yang lalu. GRC Forum yang diselenggarakan OJK pada bulan April 2014 mengusung tema CA, sedangkan Risk and Governance Summit OJK yang diadakan pada bulan November 2014 menghadirkan Marvyn E. King, ketua komite penyusun King III. Ketua Dewan Audit OJK Ilya Avianti menegaskanbahwa tahun 2015 ini merupakan tahun penguatan integritas OJK yang antara lain dilakukan melalui pematangan model CA OJK.

Sebagai catatan, hingga saat ini OJK menggunakan istilah “asurans” sebagai padanan assurance. Kata ini terlalu mirip dan mudah tertukar dengan “asuransi” yang tentu saja memiliki arti berbeda. Oxford Dictionaries mengartikanassurance sebagai “a positive declaration intended to give confidence; a promise.” Istilah “pemastian” saya pikir dapat menangkap arti tersebut. Pilihan lain yang kadang juga dipakai adalah “penjaminan”, tetapi saya pikir assurance tidak bisa menjamin 100%.

Tinggalkan Balasan