20 Agustus 2012,
 0

Sumber gambar: OCLC

Program perbaikan berkelanjutan (continuous improvement) semakin banyak dilakukan oleh perusahaan untuk mengembangkan perusahaan dan meraih keunggulan bersaing. Sayangnya, upaya ini kerap menemui kegagalan karena perusahaan tidak menyadari dasar utama dalam perbaikan: perbaikan berkelanjutan memerlukan komitmen untuk belajar. Dalam artikel klasiknya di HBR (1993), profesor Harvard Business School¬†David A. Garvin¬†mengajukan kerangka “3M” (meaning, management, measurement) sebagai tiga isu kritis yang harus dilakukan untuk menerapkan konsep organisasi pembelajar (learning organization) dengan efektif. Makna (meaning) dibutuhkan untuk mendapatkan definisi organisasi pembelajar yang lebih membumi dan mudah diterapkan. Manajemen dibutuhkan untuk memperoleh pedoman praktik pelaksanaan. Ukuran (measurement) dibutuhkan untuk menilai tingkat pembelajaran organisasi.

Makna

Garvin mendefinisikan “organisasi pembelajar” sebagai “suatu organisasi yang terampil dalam menciptakan, mendapatkan, dan mentransfer pengetahuan, serta mengubah perilaku organisasi tersebut untuk mencerminkan pengetahuan dan wawasan baru tersebut”. Gagasan baru dapat diperoleh baik dari dalam organisasi berupa kreativitas maupun dari luar organisasi melalui komunikasi dengan pihak lain.

Manajemen

Dari mana pun asalnya, gagasan-gagasan baru tersebut perlu disertai dengan perubahan dalam cara kerja. Untuk memastikan hal ini, ada 5 aktivitas yang harus dikuasai oleh suatu organisasi pembelajar, yaitu:

  1. Pemecahan masalah sistematis: metode ilmiah, data, dan alat statistik perlu digunakan untuk pemecahan masalah.
  2. Eksperimen: uji coba untuk pencarian dan pengujian pengetahuan baru.
  3. Belajar dari pengalaman lampau: kajian dan dokumentasi kesuksesan dan kegagalan dalam bentuk studi kasus dan tinjauan pascaproyek.
  4. Belajar dari pihak lain: pemanfaatan penolokukuran (benchmarking) dan diskusi dengan pelanggan untuk mendapatkan masukan pihak eksternal.
  5. Transfer pengetahuan: penyebaran pengetahuan ke seluruh organisasi melalui laporan, kunjungan lapangan, rotasi personel, dan diklat.

Ukuran

Secara tradisional, ukuran pembelajaran diperoleh dari “kurva pembelajaran dan pengalaman” yang mengukur salah satu keluaran (biaya atau harga). Ukuran lain yang mulai sering digunakan adalah “kurva paruh-hidup” (half-life curve) yang mengukur waktu yang dibutuhkan untuk mencapai 50% perbaikan dari ukuran kinerja yang telah ditetapkan. Proses pembelajaran organisasi biasanya ditempuh melalui tiga tahap, yaitu kognitif, perilaku, dan peningkatan kinerja. Proses ini perlu dinilai melalui suatu audit pembelajaran (learning audit) yang komprehensif.

Langkah awal

Sebagai penutup artikelnya, Garvin memberikan beberapa langkah awal untuk menuju organisasi pembelajar, yaitu:

  1. Menciptakan suasana yang kondusif untuk belajar. Hal ini dapat dilakukan dengan (1) memberi waktu secara eksplisit kepada karyawan untuk melakukan analisis dan refleksi serta (2) membuka batasan dan mendorong pertukaran gagasan.
  2. Membuat forum belajar, misalnya dalam bentuk kajian strategi, audit sistem, laporan tolok ukur internal, misi belajar, atau simposium.

Sumber: Garvin, D.A. (1993). Building a Learning Organization. Harvard Business Review, July 1993.

Tinggalkan Balasan