26 September 2012,
 0

Sumber gambar: The Perfect Customer Experience

Kompetisi tidak hanya berlaku di arena olahraga ataupun kampanye politik, tetapi kompetisi juga berlangsung di sekitar kita, misalnya di dalam dunia kerja. Ketika banyak orang yang makin khawatir akan posisi mereka di dalam pekerjaan, mereka (juga kita) akan berusaha membuktikan kepada atasan bahwa mereka pantas untuk dipertahankan. Memang pada dasarnya persaingan sehat antarrekan sekerja akan meningkatkan motivasi dan produktivitas, tetapi terlalu banyak ketegangan bisa merusak kinerja tim.

Berikut adalah tipe rekan kerja yang kompetitif:

  • Yang penting cepat. Tipe ini adalah tipe yang ingin memenangkan perlombaan dengan segala cara. Ketika atasan memerintahkan bawahan untuk memasukan ide ke dalam suatu proyek, orang inilah yang paling pertama akan merespons.
  • Penyendiri. Orang ini tipe yang sangat merahasiakan idenya. Ia ingin menyelesaikan pekerjaannya dengan waktu dan caranya sendiri sehingga sulit untuk bekerja sama dengan orang yang memiliki tipe seperti ini.
  • Si superstar. Orang yang memiliki tipe seperti ini tak segan-segan untuk berbincang dan melobi orang yang jabatannya tinggi di perusahaan. Meski semangat “pasti bisa dikerjakan” memang bisa membantu, tetapi target yang ia kejar sebenarnya adalah agar para petinggi bisa melihat bahwa dirinya mampu mengatasi tugas-tugas sulit.
  • Pengangkat beban. Orang ini paling senang menawarkan diri untuk mengerjakan tugas lain kepada atasannya agar terlihat berinisiatif. Aksinya tak hanya membuat dirinya diperhatikan oleh atasan, tetapi memberikannya kesempatan untuk belajar kemampuan baru.
  • The Saboteur. Tipe ini akan melakukan banyak hal agar bisa jadi yang terdepan, misalnya mengaku bahwa hasil kerja tim adalah hasil pemikirannya. Dengan membuat orang lain terlihat buruk, ia pikir ia akan terlihat lebih baik.

Dalam menghadapi persaingan tersebut, berikut kiat bijak untuk menghindari persaingan yang bersifat negatif:

  • Jangan memasukkan orang ketiga. Sering kali terjadi seseorang, khususnya perempuan, menceritakan kekesalannya kepada pihak ketiga. Orang ketiga tidak akan menciptakan solusi, melainkan hanya kita yang dapat menyelesaikannya. Agar tidak terjadi kesalahpahaman, sebaiknya kita menyelesaikan masalahnya langsung dengan orang yang bersangkutan.
  • Hadapi langsung. Apabila terdengar berita-berita buruk megenai kita, sebaiknya kita bicarakan langsung dengan si penyebar berita secara baik-baik. Fokus pada tujuan bahwa kita akan meyakinkan orang lain bahwa kita dan dia bisa bekerja sama dengan baik.
  • Jangan mengumbar masalah pribadi. Jangan terlalu bersemangat menyesuaikan diri di tempat kerja. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengetahui siapa yang bisa kita percaya dan percaya pada kita. Kita tetap bisa ramah tanpa menjadi teman. Bukan berarti kita tidak perlu teman, tetapi pertemanan tetap memiliki batasan-batasan pribadi.
  • Fokus pada pekerjaan dan jangan sampai terpancing. Jangan sampai perseteruan ini menghabiskan seluruh waktu dan energi kita sehingga kita tidak bisa fokus kepada pekerjaan. Abaikan saja segala perilakunya yang memancing emosi kita, dan tetap jaga sikap netral dengan tidak menjelek-jelekannya juga.
  • Pasang batas aman. Selesaikan seluruh pekerjaan dan segera laporkan kepada atasan. Tujuannya adalah untuk memastikan atasan Anda mengetahui bahwa yang mengerjakan pekerjaan tersebut adalah kita, bukan orang lain yang berusaha untuk mensabotase.
  • Rendah hati. Jangan pernah membencinya. Sekalipun ia membenci kita, kita tetap harus bersikap bijak. Biasanya sikap rendah hati membuahkan hasil yang baik. Sebaliknya, sikap arogan akan membuatnya bersemangat untuk terus menjatuhkan kita.

Sumber: http://id.jobsdb.com/ID/EN/Resources/JobSeekerArticle/Menghadapi%20Persaingan?ID=484

Tinggalkan Balasan