1 November 2012,
 1

Sumber gambar: Ayo Pelajari

Sebelum Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak dikonsumsi pada tingkat konsumen, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) telah dipungut pada setiap mata rantai jalur produksi maupun jalur distribusi. Pemungutan pada setiap tingkat ini tidak menimbulkan efek ganda (cascading effect) karena adanya umur kredit pajak. Oleh karena itu, beban pajak oleh konsumen besarnya tetap sama dan tidak terpengaruh oleh panjang atau pendeknya jalur produksi atau jalur distribusi.

PPN dikenakan terhadap nilai tambah Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang diserahkan Pengusaha Kena Pajak. Nilai tambah ini adalah selisih harga jual dan harga pokok barang tersebut. Selanjutnya, berapakah besarnya pajak yang terutang atas nilai tambah? Ada tiga metode yang biasa dipakai untuk menghitung PPN, yaitu addition, substraction, dan credit.

Addition Method

Pada metode ini, besarnya PPN dihitung dari tarif dikalikan seluruh penjumlahan nilai tambah, dengan syarat setiap Pengusaha Kena Pajak harus mempunyai pembukuan yang tertib dan terperinci atas biaya yang dikeluarkan. Contoh:

BKP diperoleh dengan harga Rp 100.000.000

Kemudian diserahkan dengan harga Rp 150.000.000

Selisih nilai tambah Rp 50.000.000

PPN terutang = 10% x Rp 50.000.000 = Rp 5.000.000

Subtraction Method

Pada metode ini, PPN yang terutang dihitung dari tarif dikalikan selisih antara harga penjualan dengan harga pembelian. Contoh:

BKP diserahkan dengan harga Rp 150.000.000

Kemudian diperoleh dengan harga Rp 100.000.000

Selisih nilai penjualan-pembelian Rp 50.000.000

PPN terutang = 10% x Rp 50.000.000 = Rp 5.000.000

Credit Method

Metode ini hampir sama dengan substraction method. Pada credit method ini, harus dicari selisih antara pajak yang dibayar saat pembelian dengan pajak yang dipungut saat penjualan. Hasil metode kredit lebih akurat karena komponen harga beli dapat memiliki komponen yang tidak terutang PPN. Subtraction method yang menghasilkan pajak atas nilai tambah secara tidak langsung disebut indirect subtraction method. Metode ini juga disebut invoice method karena menuntut alat bukti berupa faktur pajak (tax invoice). Contoh:

BKP diserahkan dengan harga Rp 150.000.000 : PPN = Rp 5.000.000

BKP diperoleh dengan harga Rp 100.000.000 : PPN = Rp 10.000.000

Selisih PPN terutang : PPN = Rp 5.000.000

Sumber: Agung Mulyo, Perpajakan Indonesia Seri PPN, PPnBM dan PPh Badan, Mitra Wacana Media, Jakarta, 2009.

One response on “Mekanisme Pemungutan PPN

  1. @msaifirosyad mengatakan:

    nice share neng.. makasih ya.!! ^__^

Tinggalkan Balasan