11 Oktober 2012,
 0

Sumber gambar: Cerrix

Indikator risiko kunci (key risk indicator, KRI) adalah perisitiwa yang mengindikasikan terjadinya peristiwa risiko dan juga peluang. KRI digunakan oleh perusahaan dalam aktivitas pemantauan risiko guna memberikan sinyal awal terkait peningkatan eksposur risiko di berbagai bidang dalam perusahaan. KRI memberikan sinyal terkait tindakan-tindakan apa saja yang penting dilakukan untuk mengatasinya.

Tujuan penyusunan KRI adalah untuk mengidentifikasi peristiwa yang relevan dengan potensi risiko yang mungkin berdampak pada pencapaian tujuan organisasi. Oleh karena itu, pemilihan dan perancangan KRI yang efektif dimulai dengan memahami tujuan organisasi dan peristiwa potensial yang memengaruhi pencapaiannya. Pemetaan antara risiko teratas dari sebuah peristiwa dengan strategi inti akan membantu menentukan informasi relevan yang dapat dijadikan sebagai indikator risiko kunci.

Indikator risiko kunci berperan sebagai sistem peringatan dini (early warning system) untuk perusahaan terkait peristiwa risiko yang mengancam pencapaian tujuan. Dalam praktiknya, agar dapat menjadi indikator yang terukur dan mudah dipantau serta dapat berperan sebagai sistem peringatan dini, indikator risiko kunci ditetapkan beserta parameter-parameternya, yang terdiri dari:

  1. Ambang batas bawah (medium threshold). Merupakan ambang batas awal yang memberikan indikasi suatu peristiwa risiko dapat terjadi dengan kemungkinan yang kecil.
  2. Ambang batas atas (high threshold). Merupakan ambang maksimum yang memberikan indikasi suatu peristiwa risiko dapat terjadi dengan kemungkinan besar.
  3. Satuan ukur (value unit). Satuan ambang batas (threshold).

Berikut ini adalah contoh penyusunan KRI:

Tujuan/Strategi/Risiko/Dampak KRI Parameter
Tujuan: Peningkatan laba penjualan sampai dengan 20%.Strategi: Perancangan produk.Risiko: Produk gagal diterima masyarakat/tidak laku di pasaran.

Dampak: Penurunan pendapatan yang signifikan.

Tingginya proporsi penolakan atau pengurangan suplai produk oleh pasar. Batas bawah: 2%Batas bawah: 5%Satuan ukur: Persentase (%) dari penolakan atau pengurangan suplai dari pasar.

Berdasarkan informasi di atas, divisi penjualan perusahaan A sedang melakukan pemantauan terhadap indikator risiko kunci. Misalnya, dalam sebuah rentang waktu terdapat penolakan dan pengurangan suplai produk oleh pasar sebesar 2%. Hal tersebut memberikan sinyal bahwa kemungkinan kecil risiko produk gagal di pasaran. Namun, ketika presentasi tersebut mencapai 5%, hal ini mengindikasikan kemungkinan risiko gagal di pasaran menjadi lebih besar dan akan berdampak pada penurunan pendapatan. Dari informasi tersebut, pemilik risiko dapat merencanakan tindakan mitigasi dimulai ketika risiko mencapai batas bawah. Hal tersebut dilakukan guna mencegah atau memperkecil risiko terjadi.

Rujukan:

  1. http://www.coso.org/documents/COSOKRIPaperFull-FINALforWebPostingDec110_000.pdf
  2. http://crmsindonesia.org/programs/research/peran-indikator-risiko-kunci-dalam-manajemen-risiko-rol

Tinggalkan Balasan