24 Oktober 2012,
 0

Sumber gambar: Era Muslim

Jabat tangan sepertinya sudah menjadi tradisi atau kebiasaan ketika kita bertemu seseorang yang baru dikenal atau bertemu dengan teman lama yang baru ditemui lagi. Namun, semakin berkembangnya berbagai penyakit yang timbul akibat penyebaran kuman melalui udara membuat banyak orang menjadi parno dan beranggapan bahwa pada saat berjabat tangan, semua kuman yang ada pada orang tersebut pindah ke tangan kita. Anggapan itu membuat banyak orang segan berjabat tangan dengan orang lain karena takut terkena kuman penyakit.

Sebagai contoh, menurut koran PharmPro di negara Amerika, hampir 50 persen orang enggan berjabat tangan karena takut terkena kuman. Bahkan, saat Olimpiade di London beberapa waktu lalu, seorang chief medical officer untuk British Olympic Association menyarankan kepada para atlet untuk tidak melakukan kebiasaan berjabat tangan tersebut agar terhindar dari kuman.

Saat ini, para peneliti mengungkapkan bahwa jabatan tangan yang kencang dan ramah dapat memicu respons yang menyenangkan dari kawan bicara. Apalagi kalau dilihat yang terjadi di masa lalu menurut teori pada antropolog sejarah, berjabat tangan itu berarti mengirimkan sinyal perdamaian. Menyodorkan tangan dengan telapak tangan terbuka itu menunjukkan bahwa orang tersebut tidak membawa senjata.

Namun, kalau kita telusuri lebih lanjut tradisi berjabat tangan, banyak hal positif yang akan kita dapatkan. Journal of Cognitive Neuroscience edisi bulan Desember lalu menyatakan bahwa bersalaman tetap menjadi hal yang penting, meskipun ada potensi perpindahan kuman. Evaluasi pemetaan otak melalui MRI dan uji konduktansi kulit yang dilakukan para peneliti mendapatkan hasil bahwa orang-orang asing yang berjabat tangan ternyata malah membentuk kesan yang lebih baik satu sama lain. Meskipun interaksi sebelumnya kurang baik, jabatan tangan menunjukkan perilaku yang lebih positif dari kedua belah pihak.

Nah, bagi tim konsultan, mari kita tingkatkan kepercayaan diri saat bersalaman dengan orang yang ditemui. Dalam pertemuan bisnis, jabat tangan dapat dijadikan sebagai bukti bahwa pekerjaan yang akan dilakukan dan hasilnya nanti akan memuaskan rekan bisnis kita.

“Banyak interaksi sosial kita yang gagal karena satu dan lain hal. Namun, jabat tangan sederhana yang mendahului interaksi tersebut bisa meredam efek negatif dari kesalahpahaman yang mungkin terjadi,” demikian diungkap oleh Sandra Dolcos dari University of Illinois Beckman Institute.

Sumber: http://female.kompas.com

Tinggalkan Balasan