26 September 2012,
 1

Sumber gambar: iStockphoto

Menjalankan tugas atau mengerjakan sesuatu harus diawali dengan niat tulus. Perlu disadari bahwa sebenarnya semua pekerjaan di dunia ini, apabila dikerjakan dengan tulus demi kesejahteraan orang banyak, merupakan amal yang tinggi dan menjadikan seseorang profesional.

Selain itu, hal yang membuat seseorang menjadi profesional adalah kejujuran. Oleh karena kejujuran diawali dengan sikap menghargai waktu (tepat waktu) dalam melaksanakan pekerjaan, kita perlu menetapi janji dan melaksanakan semua pekerjaan dengan kesungguhan hati dari pekerjaan yang kecil sampai yang besar.

Profesional harus selalu bekerja dengan kesungguhan hati (truthfully, seriousness), tidak setengah-setengah, apalagi asal-asalan atau main-main. Kesungguhan hati juga mengandung arti kesanggupan (commitment) untuk melakukan pekerjaan atau tugas dengan sepenuhnya dan itu merupakan suatu janji (promise) yang harus ditepati. Selain itu, seorang profesional harus jujur pada disiplin ilmu dan keterampilan di bidangnya.

Dalam penelitian, pengujian, percobaan, observasi, investigasi, atau kegiatan sejenisnya, seorang profesional harus memegang prinsip kejujuran dan tidak boleh memanipulasi data untuk suatu kepentingan tertentu yang menguntungkannya. Saat diminta untuk bertindak sebagai ahli (biasanya disebut saksi ahli) dalam suatu perkara di pengadilan, seorang profesional harus benar-benar dapat menerangkan pendapatnya secara jujur berdasarkan kompetensi keahliannya untuk memperjelas duduk perkara yang tidak dipahami penegak hukum.

Agar seseorang dapat bekerja secara profesional, diperlukan persyaratan- persyaratan sebagai berikut:

  • Memiliki pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bidang tugas. Pengetahuan itu jelas diperlukan sebagai bekal untuk bekerja dan dapat diperoleh dengan cara menempuh pendidikan, baik pendidikan formal maupun nonformal, pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
  • Mengembangkan potensi pada dirinya secara berkelanjutan. Kemampuan, kepandaian, keterampilan, bakat, dan potensi yang dimiliki harus senantiasa dikembangkan dengan belajar sepanjang hayat.
  • Tidak sempit pandangan. Seorang profesional semestinya memiliki pengetahuan yang luas. Banyak orang yang sempit pandangan (narrow minded) dan tidak mau mendengar atau menghargai pendapat atau ide orang lain.
  • Menerapkan keahlian secara bertahap. Seseorang yang dianggap profesional tidak ada batasannya. Semua itu berangkat dari awal dan berlanjut sesuai dengan waktu dan kemajuan. Baik yang masih pemula, staf biasa atau junior, maupun yang sudah benar-benar ahli, punya jabatan atau senior, semua harus tetap memperhatikan kinerja yang profesional.
  • Bekerja secara cermat dan teliti. Profesional adalah pekerja yang bekerja dengan cermat dan teliti. Cermat (careful) artinya dengan perhatian (hati-hati) atau upaya yang serius dan penuh tanggung jawab. Teliti (accurate) artinya tepat, pasti, atau bebas dari kesalahan. Sifat cermat dan teliti akan mengurangi terjadinya kesalahan-kesalahan dan risiko kegagalan sehingga kualitas dan kuantitas pekerjaan dapat menjadi lebih baik dan mencapai atau setidaknya mendekati sempurna.
  • Bekerja dengan senang hati. Pekerja profesional mengerjakan apa yang sudah ada di tangannya dengan senang hati. Jadi, kalau bekerja itu harus disertai rasa senang hati (joyful), tidak menggerutu dan tidak menyesali, tetapi harus cinta pekerjaan dan menikmati (enjoy) sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi)-nya.
  • Saling membantu sesuai bidang keahliannya. HaI ini merupakan kompetensi sosial di antara berbagai pekerjaan/profesi kehidupan di masyarakat. Tujuannya agar setiap profesional dapat berkomunikasi, berinteraksi, dan berkoordinasi satu sama lain secara efektif dan efisien untuk berbagai keperluan hidup.

Sumber: http://m.tubasmedia.com/berita/bekerja-secara-profesional/

One response on “Bekerja secara profesional

  1. betul sekali, sngat dibutuhkan prefesionalisme dalam bekerja…!!!

Tinggalkan Balasan