8 November 2012,
 0

Sumber gambar: Crefto Dollar

Saya meyakini, tidak ada orang yang mau disebut egois. Walaupun begitu, jika tidak ada orang yang pernah menyebut Anda egois, belum tentu Anda pasti bukan egois. Ataupun sebaliknya, ada orang yang berkata Anda egois, namun kenyataannya belum tentu Anda egois dan bisa juga orang yang berkata seperti itulah yang egois. Untuk mencoba melihat apakah Anda termasuk yang egois, berikut disampaikan tanda yang membantu untuk memeriksa diri Anda apakah Anda termasuk seseorang yang egois.

Anda tidak suka diperintah dan susah berkompromi dengan orang lain.

Anda lebih suka menyuruh dan memerintah daripada diperintah. Ada yang berkata hal tersebut adalah salah satu tanda jiwa seorang pemimpin. Tapi, tunggu dulu. Perlu diingat bahwa kepemimpinan bukan tentang memerintah, tetapi memberi panduan, panutan, dan pelayanan. Sebaliknya, jika Anda tidak bisa dipimpin, berkompromi, dan bekerja sama, bisa jadi Anda menganggap diri yang selalu benar. Faktanya, Anda selalu butuh orang lain, baik untuk membimbing maupun bekerja sama dengan Anda untuk meraih yang Anda cita-citakan.

Anda menganggap orang lain egois.

Seperti pada pernyataan sebelumnya, seseorang yang egois justru menganggap orang lain egois. Hal ini biasa terjadi ketika keiinginannya tidak terpenuhi dan terpaksa mengikuti keputusan orang lain. Kata-kata “kamu memang egois!” dapat menjadi senjata terakhir untuk membuat orang lain merasa bersalah atau bahkan membuat orang lain memandang orang itu menjadi negatif juga. Mengatakan orang lain egois ternyata bukan untuk menyadarkan mereka yang egois, melainkan hanya demi kepentingan orang yang mengatakan itu sendiri.

Anda merasa bahwa Anda lebih baik dari orang lain.

Pernyataan ini memang bisa memotivasi kita untuk lebih percaya diri dan tidak mudah menyerah. Namun, pernyataan ini juga bisa menandakan bahwa Anda egois. Mengapa demikian? Karena jika Anda selalu berpikir seperti itu, bisa-bisa Anda selalu merendahkan orang lain. Akibatnya, Anda selalu merendahkan segala hal yang orang lain sampaikan dan Anda selalu menganggap Anda lebih baik dari mereka. Menyadari bahwa orang lain juga bisa jadi sama baik, bahkan mengakui mereka lebih baik dari Anda, tidak akan membuat Anda menjadi pribadi yang minder, lho. Justru dari proses itulah Anda bisa lebih maju karena belajar dari mereka.

Anda melihat kritik sebagai serangan pribadi.

Ketika Anda menerima kritik dari orang lain, Anda menganggap orang itu benci dan ingin menjatuhkan Anda. Akibatnya, Anda jarang memiliki teman yang bisa bertahan lama bersahabat dengan Anda. Hal ini bukan karena Anda kurang baik dan menyenangkan, melainkan karena Anda kurang peka dan sadar bahwa dalam sebuah hubungan pasti ada perbedaan pendapat yang terjadi. Karena itu, cobalah dari sekarang untuk melihat kritik sebagai masukan dan bahan pembelajaran kepada diri sendiri untuk melangkah lebih maju.

Anda “bete” ketika orang lain lebih disorot.

Mungkin ini terdengar agak kekanak-kanakan, tapi tanpa disadari hal ini banyak terjadi pada orang dewasa. Sebenarnya, Anda bisa memiliki prestasi yang cemerlang dan penuh percaya diri. Namun, ketika orang lain tidak memuji dan memperhatikan Anda, Anda merasa tidak puas dengan apa yang telah Anda kerjakan. Cobalah dari sekarang untuk tidak menentukan nilai diri Anda dari sikap yang orang lain berikan kepada Anda.

Anda susah minta maaf dan memaafkan.

Memberi maaf dan meminta maaf adalah hal yang sulit dilakukan oleh seseorang yang egois. Memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain membutuhkan kemampuan untuk melepaskan “hak” seseorang. Perlu sikap rendah hati dari seseorang yang mau memaafkan. Sebaliknya, untuk meminta maaf juga terasa berat karena adanya kekhawatiran apakah orang tersebut akan memaafkan atau tidak. Kedua hal ini sulit dilakukan oleh orang yang egois karena ia sering kali malah memilih menimpakan kesalahannya kepada orang lain atau minimal ‘mengajak’ orang lain untuk ikut bertanggung jawab atas apa yang tidak dilakukan orang tersebut.

Keenam hal di atas dipaparkan bukan untuk menghakimi atau menuduh orang lain. Namun, jikalau memang ada, jadikan keenam hal di atas sebagai pembelajaran dan perenungan kembali atas sikap yang kita miliki untuk dapat memperbaiki diri untuk menjadi tidak egois.

Tinggalkan Balasan